Kamis, 21 Mei 2020

Kidung Rumekso Ing Wengi - Sunan Kalijaga (dan terjemahannya)

Orang Jawa punya kebiasaan  ngidung  atau  nembang. Baik  ngidung  maupun  nembang , keduanya sama-sama menjadi klangenan masyarakat Jawa dalam merefleksi hidup. Seringkali kebiasaan itu berjalan beriringan dengan kegemaran mendengarkan lantunan gamelan Jawa, atau yang biasa disebut klenengan.

Pada sore hari selepas bekerja, masyarakat Jawa di pedesaan kerap menyenandungkan tembang-tembang Macapat. Ada sebuah ketenangan batin yang dirasakan setiap kali bait demi bait dinyanyikan. Demikian pula dengan sebuah tembang atau kekidungan, yang diberi judul Kidung Rumekso Ing Wengi. Kidung ini juga dikenal dengan nama “MANTRA WEDHA”. Berdasarkan cerita tutur, kidung ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

Kidung ini biasa dinyanyikan pada malam hari, atau selepas shalat malam. Sebagaimana maknanya, Kidung Rumekso Ing Wengi bertujuan menyingkirkan diri dari balak atau gangguan, baik yang nampak maupun tidak.  Kidung ini juga mengingatkan manusia agar mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan dan malapetaka yang lebih dahsyat. Dengan demikian kita dituntut untuk senantiasa berbakti, beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Klik untuk perbesar gambar




Rabu, 13 Mei 2020

DR. Haris Sarwoko,M, Si CIBA,CMA,CPA - " Pemerintah belum lakukan pertanggug jawaban publik secara luas "

Saung Aki Argapura,14 Mei 2020,-  Menjangkitnya Covid19 di seluruh dunia termasuk di Bumi Pertiwi ini, bukan hanya memporak porandakan tatanan ekonomi secara menyeluruh, walau ada beberapa bagian kecil usaha yang justru berkembang terkait situasi krisis tersebut.

Disisi lain, pandemic Covid19 ini juga mampu membangkitkan kepekaan dalam tatanan kehidupan di masyarakat. Terlebih di Indonesia yang mana kultur goyong royong yang sebelumnya memang sudah ada.

Lebih dari itu, DR. Haris Sarwoko,M, Si CIBA,CMA,CPA salah seorang tokoh masyarakat yang juga tokoh intelektual itu mengatakan, meski tanpa pemerintah sekalipun, masyarakat dapat selamat dari musibah tersebut. Namun, walau bagaimanapun didalam negara ada pemerintahan yang harus bertanggung jawab atas rakyatnya.

Menurut Haris, Dalam kondisi pandemic Covid19 ini, pemerintah sudah melakukan pertanggung jawabannya. Namun masih sebatas pertanggung jawaban secara prosedural. Pemerintah belum sampai kepada pertanggungjawaban public secara luas, yang mana pertanggungjawaban tersebut juga harus diterjemahkan secara prosedural lewat pembentukan perundang-undangan yang mencakup secara utuh. Langkah ini dibutuhkan agar tidak terjadi kekeliruan.

Lebih jauh Haris yang tinggal di bilangan Ciputat Tangrang Selatan, Banten itu berharap, agar para pengelola negeri ini dapat lebih peka dalam mengelola negara dan segala permasalahannya. ( Andra )


Lihat Video Pembicaraan Pak Haris dengan Team FKD

Rabu, 22 April 2020

Solawat Corona, Mengolah Bencana menjadi Berkah










Virus Corona sudah dianggap dan dikategorikan sebagai musibah dunia.  Segalanya adalah kehendak-NYA yang pasti mempunyai maksud tertentu. Dan kesemuanya akan menjadi baik jika kita dapat ,menyikapi dengan bijak dan bertanggung jawab atas segala apa yang kita perbuat. Corona menjadi 'alat' bagi alam untuk merubah segalanya. Semua kita serahkan kepada yang Maha Menggerakkan, dengan tidak meninggalkan rasa eling dan waspada.





Minggu, 01 Desember 2019

HAMPARAN MAKAM TUA DI GUNUNG GALANTUNG


Gunung Galantung yang terletak di belahan wilayah Jasinga, Bogor Barat merupakan dataran yang berundak, dan ternyata disepanjang hamparan tersebut terdapat makam-makam tua yang merupakan tokoh-tokoh Islam. Dari deretan makam-makam keramat tersebut dapat dijadikan sebagai ambaran cerita Islam baik di tanah nusantara, bahkan Islam dunia.

Banyak nama-nama tokoh Islam di makam tersebut, dari Ki Kuncung Putih Atau lebih dikenal dengan Nur Cahya, Nagandini (Cipta Rasa) yakni tokkoh Islam di era pra Rosulilloh sampai kepada Pangeran Surabaya alias Muhammad Ali, Pangeran Cakra Buana, Jaya Lelana, Raden Bentang, Pangeran Saba King King sampai kepada Ibunda Hj. Syarifah Mudaim atau Rara Santang.

Ada hal yang menarik disini, dimana Hj. Syarifah Muda’im yang merupakan Ibunda dari Syarif Hidayatullah, atau nenek dari Sultan Hasanuddin. 


Dimana Isteri dari Sultan Hud penguasa Mesir ini telah diketahui  dimakamkan di Desa Jayakerta, Kecamatan Jayakerta Kab. Kerawang. Namun di di Hamparan pemakaman Gunung Galantungpun ada makam Hj. Syarifah Muda’im alias Rara Santang. Mas Eg



Selasa, 26 November 2019

Tree Musketter Kalong Dagul Lestarikan Marhabba


Marhabba, adalah salah satu budaya  yang berisikan syair puja-puji kepada Allah dan Rosulnya yang mana kala itu Marhabba merupakan giat adat yang sudah mentradisi di wilayah Kalong Dagul dan sekitarnya. Namun semakin bergesernya waktu, bereser pula posisi Marhabba yang kian menghilang dari tengah masyarakat.
Sadar akan hal itu, timbul inisiaatif dari tiga tokoh setempat untuk melestarikan beragam budaya yang ada diwilayahnya termasuk budaya Marhabba yang dianggap kian memunah. Ketiga tokoh tersebut adalah Toni, Iwan dan Yanto. Kemudian merekapun berinisiatif membentuk kelompok yang diberi nama “Jaddal Husaeni”.
Sebelumnya Marhabbah digiatkan oleh Almarhum TB. Nawawi Sepuh dan menjadi tradisi yang lekat dengan tradisi kemasyarakatan di wilayah Kalong Dagul dan sekitarnya.
Kini “Jaddal Husaeni” yang dipelopori oleh Tree Musketter dari Kalong Dagul  terus berupaya  untuk melestatikan Marhaba agar tetap berkumandang pada setiap acara kemasyaarakatan. 

Alhasil alunan koor yang indah nan sakral itu mulai terdengar lagi di acara-aacara adat kemasyarakatan di kalong Dagul dan sekitarnya.

Diskusi ringan yang dilaksanakan secara rutin di Saung Aki Argapura yang membahas tentang berbagai hal. Kini mereka tengah membahas tentang Marhabba

Sabtu, 09 November 2019

Obrolan Pojok Saung Aki Argapura - Jasinga Bogor Barat


Puasa Ngabeuti : Puasa ngabeuti adalah puasa yanhg dilakukan untuk membersihkan diri dan fikiran. Seperti halnya Najis Mugholadhoh dimana najis tersebut tidak bisa dibasuh dengan air ataupun api. Najis berat tersebut hanya bisa dibasuh dan dibersihkan dengan tanah. Demikian pula halnya Puasa Ngabeuti, dimana upaya manusia untuk membersihkan makanan yang (banyak mangandung najis) sudah masuk ke dalam tubuh selama setahun harus dibasuh dengan "tanah", yaitu makanan yang berasal dari dalam tanah (umbi-umbian), atau dalam bahasa spiritual sundanya "Aci Bumi".

Dengan melakukan puasa selama 9 hari (tanggal 3 - 12 maulut) setiap tahunnya, diyakinkan bisa membersihkan segala macam makanan yang sudah masuk ke dalam tubuh. Dipilihnya bulan maulut karena bertepatan dengan lahirnya Rosululloh sebagai simbol kehidupan.

Aki Abdurahman : "Muhammad adalah Kehidupan, cintailah kehidupan sebagai bukti kita mencintai Muhammad Rosululloh"


Munculnya Makam Raja Raja Nusantara di Tanah Bogor Barat

Bunar-8 November 2019

Wilayah Bogor Barat ternyata banyak menyisahkan bukti-bukti sejarah yang lekat dengan perkembangan Islam, baik di era paska Rosululla maupun era jauh sebelumnya.
Seperti halnya di Bukit Kalong Dagul. Bukit yang terletak di Desa Kalong Sawah Kec. Jasinga, Kabupaten Bogor, dimana di kawasan tersebut ditemukan makam raja-raja Islam dari Kerajaan Argapura.

Menurut sesepuh setempat yang juga pemangku Yayasan Saung Aki Argapura Aki Abdurahman, Kerajaan Argapura adalah kerajaan Islam di Tanah Pasundan yang sudah ada sebelum era Nabi Muhammad SAW. Di Bukit Kalong Dagul awalnya hanya ditemukan tiga makam yakni makam Syekh Abdul Hamid (Ki Buyut Kamid) beserta Nyi Saripah isterinya . Kemudian, setelah dilakukan penggalian di wilayah sekitar  oleh tim Yayasan Saung Aki Argapura, ternyata ada ratusan nisan lagi ditemukan di seputar aral tersebut. 

Dari ratusan nisan tadi, selain Makam Ki Buyut Kamid ada tiga makam tokoh diantaranya Prabu Eyang Dugal Halimun, Eang Panji Bungalarang dan syekh Nurkholiq yang kesemuanya itu adalah tokoh penyebaran Islam di tanah pasundan.

Sampai kini Yayasan Saung Aki Argapura terus melakukan penggalian dan perawatan wilayah pemakaman tersebut.